Dalil Puasa Ramadhan

Apa Dalil Puasa Ramadhan dan Keutamaannya?

Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang dinantikan oleh seluruh umat muslim di dunia. Pada bulan tersebut, banyak orang berbondong-bondong melakukan amalan saleh seoptimal mungkin untuk meraih pahala dari Allah. Lalu, apakah dalil puasa Ramadhan?

Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa sangat antusias menyambut bulan Ramadhan. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mempersiapkan bulan Ramadhan sejak bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Saya sama sekali belum pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dalam satu bulan sebanyak puasa yang beliau lakukan di bulan Sya’ban, di dalamnya beliau berpuasa penuh.” (HR Muslim no. 1156)

Hukum dan Dalil Puasa Ramadhan

Mengingat pentingnya dan banyaknya keutamaan selama bulan Ramadhan, banyak umat muslim yang menyambut dengan antusias bulan suci tersebut. Nah, untuk menyambut bulan Ramadhan, ada baiknya hal tersebut dilakukan dengan tidak keluar dari syariat Islam.

Lakukan seperti halnya yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan, yaitu memperbanyak puasa di bulan Sya’ban guna mempersiapkan diri sebelum masuknya bulan Ramadhan.

Puasa Ramadhan dilakukan oleh semua kalangan, kecuali yang berhalangan atau ada uzur, misalkan sakit, belum ada kewajiban bagi anak-anak yang belum baligh, orang gila, dan lain sebagainya. Untuk mereka yang berhalangan maka diwajibkan untuk membayar fidyah atau meng-qadha’ puasa di lain waktu.

Hukum puasa Ramadhan adalah wajib bagi mereka yang sudah baligh, berakal, memiliki keadaan yang sehat, dan tidak dalam keadaan perjalanan jauh. Hukum dan dalil puasa Ramadhan jelas difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah ayat 183)

Dalam hadistnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “(Puasa yang wajib bagimu adalah) puasa Ramadhan. Jika engkau menggendaki untuk melakukan puasa sunah (maka lakukanlah).” (HR Bukhari)

  • Bagi yang Sengaja Membatalkan Puasa Ramadhan
Viral :   Honda BR-V buatan Indonesia resmi diekspor

Seperti yang sudah dijelaskan dalam dalil puasa Ramadhan di atas, hukum puasa di bulan Ramadhan adalah wajib. Apa pun yang hukumnya wajib jika seseorang sengaja meninggalkannya tanpa ada udzur syar’I, maka ia telah berdosa.

Ancaman siksa neraka telah menunggu mereka yang sengaja membatalkan puasa tanpa ada udzur syar’i. Seperti yang dikisahkan oleh Abu Umamah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Ketika aku tidur, aku didatangi oleh kedua laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata, ‘Naiklah!’. Lalu kukatakan, ‘Sesungguhnya aku tidak mampu.’

Kemudian, keduanya berkata, ‘Kami akan memudahkanmu.’ Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya, ‘Suara apa itu?’ Mereka menjawab, ‘Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.’

Kemudian, dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalir lah darah.

Kemudian, aku (Abu Umamah) bertanya, ‘Siapakah mereka itu?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum waktunya’.” (HR An-Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih)

Keutamaan Puasa Ramadhan

Banyak keutamaan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Bahkan, tidak hanya puasa saja, melainkan juga amalan-amalan saleh yang dikerjakan selama bulan Ramadhan. Apa saja keutamaan beribadah di bulan Ramadhan?

  1. Meraih Takwa dan Dosa Terampuni

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah ayat 183)

Viral :   Mulai 1 April 2022 Ngebut di Tol kena Tilang. Ini Batas Kecepatan di Tol!

Dalam firman Allah yang menjadi dalil puasa Ramadhan di atas, disebutkan bahwa disyariatkannya puasa agar menjadi orang yang bertakwa. Berpuasa dan beramal saleh di bulan puasa merupakan bagian dari menjalankan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Orang yang mendirikan shalat malam pada bulan Ramadhan dengan dasar iman dan mengharap ridha Allah maka akan diampuni dosa yang telah dilakukannya.” (Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

  1. Mendapatkan Syafa’at Bagi yang Menjalankannya

Setiap umat muslim pastilah mengharapkan syafa’at kelak di akhirat, terutama bagi umat akhir zaman yang pasti tidak terlepas dair dosa. Syafa’at ini sangat dinantikan oleh setiap umat muslim.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Puasa dan Al Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak. Puasa akan berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Dan Al-Qur’an pula berkata, ‘Aku telah melarangnya dari tidur malam hari. Karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafa’at keduanya diperkenankan’.” (HR Ahmad 3:396. Syaikh Syu’aib al-Arnauth mengatakan bahwa hadis tersebut shahih dilihat dari banyak jalan)

Dari penjelasan di atas, sudah jelas bahwa puasa dan Al Qur’an kelak akan memberikan syafa’at. Terlebih di bulan puasa yang di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang disebut sebagai “malam seribu bulan”.

Dengan memperhatikan dan mempelajari dalil puasa Ramadhan serta keutamaannya, semoga semangat beribadah selama bulan Ramadhan yang sebentar lagi tiba juga makin bertambah.